Jakarta, CNN Indonesia --
Mata dunia tertuju pada Iran yang bisa memberikan perlawanan tangguh melawan dua kekuatan dunia, Amerika Serikat dan Israel.
Meski Iran kehilangan para pemimpin dan warga sipil, namun mereka tampak tetap solid dan terus memberi tekanan.
Kenyang diembargo
Iran adalah negara yang kenyang diembargo oleh negara barat terutama Amerika Serikat setelah Revolusi tahun 1979.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sanksi itu mencakup pembekuan aset, embargo perdagangan (terutama minyak), pembatasan sektor keuangan (seperti SWIFT), larangan transfer dana, dan embargo senjata, dengan tujuan menekan program nuklir dan militer mereka, yang berdampak signifikan pada ekonomi dan kehidupan warga sipil Iran.
Sepuluh tahun kemudian, embargo berlanjut dengan embargo impor barang dan jasa Iran sebagai respons atas agresi di Teluk Persia dan dukungan terorisme. Pada 2006 PBB mulai memberlakukan sanksi terhadap Iran terkait program nuklirnya yang kontroversial.
Dikutip dari situs Columbia University, sanksi ini diperluas untuk mencakup embargo penuh dan komprehensif terhadap perdagangan bilateral (diberlakukan melalui EO 12957 dan EO 12959 yang ditandatangani oleh Presiden Clinton) dan, pada tahun 1996, sanksi yang berupaya mengisolasi Iran dari perusahaan energi non-AS juga.
Perkembangan ini memunculkan terciptanya konsep baru, yaitu sanksi "sekunder". Berbeda dari sanksi "primer" (yang menargetkan perdagangan AS dengan negara asing), sanksi sekunder menargetkan orang atau entitas non-AS agar tidak terlibat dalam perdagangan dengan negara asing lainnya.
Memasuki tahun 2010-2020, AS dan PBB kenakan sanksi terutama di bawah administrasi Trump, yang sangat memukul ekspor minyak Iran.
Terutama setelah Dewan Keamanan PBB mengesahkan Resolusi 1929 yang memperketat embargo terhadap program nuklir Iran, diikuti oleh sanksi tambahan AS untuk menghukum pelanggaran hak asasi manusia dan menargetkan sektor finansial dan energi Iran.
Sanksi ini melarang transaksi dengan Iran, membatasi akses keuangan, dan memaksa negara lain mengurangi impor minyak Iran, yang berdampak signifikan pada ekonomi Teheran. Sanksi ini memukul telak Iran hingga ekonomi dalam negeri goyah.
Kenyang dengan sanksi membuat negara ini jadi kebal. Berkali-kali Amerika memaksa Iran kembali ke meja perundingan untuk menghentikan program nuklirnya, namun tidak pernah membuahkan hasil.
Sampai-sampai Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan, "Kami tidak akan mati kelaparan jika mereka menolak berunding dengan kami atau menjatuhkan sanksi," dikutip oleh media pemerintah tentang pembicaraan dengan Washington.
"Kami akan menemukan cara untuk bertahan hidup," ujarnya dikutip dari Reuters.
Menurut pakar hubungan internasional dari Universitas Indonesia Sya'roni Rofii, meski Iran diembargo ternyata justru membuat Iran makin "mandiri", termasuk soal merakit dan membuat alat utama sistem persenjataan (alutsista) seperti rudal dan drone.
Meski selama puluhan tahun berada di bawah sanksi ketat Amerika dan berbagai sanksi multilateral lain, Iran tetap mampu membangun dan mempertahankan industri pertahanan domestik serta memproduksi berbagai sistem persenjataan secara mandiri.
Hal ini bukan berarti sanksi AS sepenuhnya gagal, melainkan karena Teheran mengadaptasi strategi untuk mengakali pembatasan dan menekankan kemandirian.
Embargo dan isolasi internasional, kata Sya'roni, berhasil membuat Iran dipaksa mengandalkan teknologi dalam negeri.
"Ilmuwan Iran dituntut untuk berinovasi di tengah embargo. Dan itu berhasil. Kedua, prinsip yang ditanamkan kepemimpinan Iran: menanamkan semangat perlawanan terhadap Barat. Sehingga dari tingkat sekolah hingga perguruan tinggi semangatnya sama yakni menjadi bangsa mandiri," ucap Sya'roni kepada CNNIndonesia.com.
Dikutip CNBC, Iran bukan hanya bisa swasembada alutsista. Teheran bahkan telah mengekspor persenjataan mereka dan menjadi pemasok penting drone militer dan rudal bagi Rusia sejak invasi skala penuh Moskow ke Ukraina dimulai pada 2022.
Kekuatan militer Iran juga tidak terlalu jelek. Menurut globalfirepower.com, AS berada di peringkat pertama sedangkan Israel di posisi 14 dari 145 negara di dunia. Sementara Iran bera da di posisi ke-16.
(imf/bac)

8 hours ago
3












































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5486410/original/015853500_1769586166-Pesib_Kurzawa.jpg)




